Subscribe:

Rabu, 28 September 2011

CINTA SESAMA MUSLIM (UKHUWAH ISLAMIYAH)

SURAT AL-HUJURAT: 10
Artinya:
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.

A.    Pendahuluan
Setelah ayat yang lalu memerintahkan untuk melakukan perdamaian antara dua kelompok orang beriman, ayat di atas menjelaskan mengapa hal itu perlu dilakukan? Itu perlu dilakukan dan ishlah perlu ditegakkan karena sesungguhnya orang-orang mukmin yang mantap imannya serta dihimpun oleh keimanan, kendati tidak seketurunan adalah bagaikan bersaudara seketurunan. Dengan demikian mereka memiliki keterikatan bersama dengan imana dan juga keterikatan bagaikan seketurunan.
Karena itu wahai orang-orang beriman yang tidak terlibat langsung dalam pertikaian antar kelompok-kelompok, damaikanlah walau pertikaian itu hanya terjadi antara kedua saudara kamu apalagi jika jumlah yang bertikai lebih dari dua orang.

B.    Pembahasan
1.    Pengertian Ukhuwah Islamiyah
Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan antara sesama muslim dan yang mengikat persaudaraan itu adalah kesamaan keyakinan atau iman kepada Allah SWT.
Tentang firman Allah SWT: Innama Al-Mu’minuuna Ikhwatun (QS. Al-Hujurat: 10), Al-Qurtubi berkata, maknanya bersaudara dalam agama dan kehormatan bukan bersaudara dalam keturunan. Atas dasar itu, tepat sekali jika ada yang berkata: Persaudaraan karena agama lebih kokoh dari persaudaraan karena keturunan, persaudaraan karena keturunan akan terputus karena perbedaan agama dan persaudaraan agama tidak akan putus karena perbedaan keturunan.
Syaikh Hasan Ayyub berkata: Persaudaraan karena agama tidak tumbuh dari pemaksaan, tapi timbul dari saling pengertian. Ikatan agama menyatukan sesama muknin seperti halnya cahaya matahari menyatukan seluruh pandangan. Orang yang beriman kepada Allah SWT dan mencintai-Nya dengan tulus, maka dia akan mencintai seluruh orang mukmin dengan tulus juga karena Allah SWT.
Supaya ukhuwah islamiyah dapat tegak dengan kokoh diperlukan empat tiang penyangga, yaitu:
a.    Ta’aruf (saling kenal mengenal)
b.    Tafahum (saling memahami)
c.    Ta’awun (saling tolong menolong)
d.    Takaful (saling memberikan jaminan)
Dengan empat tiang persaudaraan di atas, umat Islam akan saling mencintai, bahu membahu, tolong menolong dalam menjalani dan menghadapi tantangan hidup, bahkan mereka sudah seperti satu batang tubuh yang masing-masing bagian tubuh ikut merasakan penderitaan bagi tubuh lainnya.
Dalam hal tersebut, Rosulullah SAW menggambarkan bagaimana persaudaraan sesama muslim tersebut yaitu:
المؤمن للمؤمن كالبنيان يسد بعضه بعضا (رواه البخارى و مسلم)
Artinya:
“Orang mukin yang satu dengan orang mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang antara bagian-bagiannya satu sama lain saling kuat menguatkan” (HR. Bukhari dan Muslim)
2.    Tafsir Mufrodat
انما         : Digunakan untuk membatasi sesuatu. Di sini kamu beriman
  dibatasi hakikat hubungan mereka dengan persaudaraan.
  Seakan-akan tidak ada jalinan hubungan antara mereka
  kecuali persaudaraan itu.
اخوة        : Bentuk jamak dari kata اخ yang dalam kamus-kamus bahasa
        seringkali diterjemahkan saudara atau sahabat
اخويكم        : Bentuk dual dari kata اخ. Penggunaan bentuk dual di sini
  untuk mengisyaratkan bahwa jangankan orang banyak,
  duapun, jika mereka berselisih harus diupayakan ishlah antara
  mereka sehingga persaudaraan dan hubungan harmonis
  mereka terjalin kembali
فاصلحوا    : Maka damaikanlah
اتقوا        : Bertakwalah
ترحمون    : Mendapat rahmat
3.    Asbabun Nuzul
Menurut riwayat ayat 10 ini turun sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas:
انصر اخاك ظالما او مظلزما. قلت: يارسول الله, هذا نصرته مظلوما, فكيف انصره ظلما؟ قال صلى الله عليه وسلم: تمنعه من الظلم فذاك نصرك اياه
Artinya:
“Tolonglah saudaramu (sesama mukmin) dala keadaan ia berbuat zalim atau dizalimi. Bertanyalah aku (kata Anas): Ya Rosulullah, ini aku menolongnya dalam keadaan ia dizalimi, maka bagaimana aku menolongnya dalam keadaan ia yang zalim? Rosulullah menjawab: Dengan mencegahnya berbuat kedzaliman”.
4.    Munasabah Ayat
Ayat 10 ini masih ada kaitannya yang erat dengan ayat 9. Diperingatkan di sini pangkal dan pokok hidup orang yang beriman, yaitu bersaudara. Sesuai dengan ayat terakhir dari surat al-fath yang dahulu itu, yaitu bahwasanya orang-orang yang telah terikat di dalam iman kepada Allah SWT, dengan sendirinya mereka bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir dan berkasih sayang di antara mereka sesama mereka. Maka ayat 10 surat ini menjelaskan yang lebih positif lagi, bahwasanya kalau orang sudah sama-sama tumbuh iman dalam hatinya, tidak mungkin mereka akan bermusuhan.
Kita teringat perkataan Abdullah bin Abbas ketika ditanyai orang mengapakah sampai terjadi perkelahian yang begitu hebat di antara golongan Ali dengan Muawiyah. Ibnu Abbas menjawab: Sebabnya ialah karena dalam kalangan kami tidak ada orang yang seperti Muawiyah dan dalam kalangan Muawiyah tidak ada orang yang seperti Ali. Oleh sebab itu diperingatkan kembali bahwasanya di antara dua golongan orang yang beriman pastilah bersaudara.
5.    Makna Ijmali
Surat Hujurat ayat 10 ini secara mujmal menjelaskan bahwa semua orang mukmin dipandang sebagai suatu keluarga. Sebab mereka semua mempunyai asas tunggal yaitu iman. Dan hubungan keimanan lebih dekat daripada hubungan keturunan. Oleh karena itu, maka damaikanlah di antara saudara-saudaramu yang seagama itu, sebagaimana kamu mendamaikan saudaramu yang seketurunan.
6.    Tafsir Ayat
$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r'sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqçHxqöè?
Imolikasi dari persaudaraan ini ialah hendaklah rasa cinta, perdamaian, kerja sama dan persatuan menjadi landasan utama masyarakat muslim. Hendaklah perselisuhan atau peperangan merupakan anomaly yang mesti dikembalikan kepada landasan tersebut begitu suatu kasus terjadi. Dibolehkan memerangi kaum mukminin lain yang bertindak zalim kepada saudaranya agar mereka kembali kepada barisan muslim. Juga agar mereka melenyapkan anomali itu berdasarkan prinsip dan kaidah Islam. Itulah penanganan yang tegas dan tepat.
Di antara tuntutan kaidah di atas ialah tidak bermaksud melukai orang dalam kancah penegakan hukum, tidak membunuh tawanan, tidak menghukum orang yang melarikan diri dari perang dan menjatuhkan senjata dan tidak mengambil harta pihak yang melampui batas sebagai ghanimah. Sebab, tujuan memerangi mereka bukanlah untuk menghancurkannya. Tetapi, untuk mengembalikan mereka ke barisan dan merangkulnya di bawah bendera persaudaraan Islam.
Prinsip utama dalam sistem umat Islam ialah hendaknya kaum muslimin di berbagai belahan dunia memiliki satu kepemimpinan. Sehingga jika telah berbaiat kepada seorang imam, maka imam yang kedua wajib dibunuh. Sebab did an para pendukungnya dianggap sebagai kelompok yang memberontak terhadap kelompok lain (bughat). Kaum mukminin hendaknya memerangi kelompok itu di bawah pimpinan imam.

C.    Hubungan Ayat Dengan Hadits
Rosulullah SAW menganggap kesempurnaan iman yang wajib tidak terwujudkan kecuali seorang muslim mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, dan membenci mereka sebagaimana ia membenci dirinya sendiri. Sebagaimana Nabi SAW bersabda:
عن انس رضى الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم: لا يؤمن احدكم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه
Artinya:
“Dari Anas bin Malik ra dia telah berkata: Nabi SAW bersabda: Tidak sempurna iman seseorang sebelum dia mencintai saudaranya sesama muslim sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”.
Hadits di atas dijadikan jawaban dari surat Al-Hujurat ayat 10, yaitu perdamaian antara dua kelompok orang beriman perlu dilakukan karena belumlah sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

رسول الله
لا يؤمن احدكم



انس بن مالك


قتادة



شعبة



بشر
محمد بن جعفر



حميد بن مسعدة
ابن بشار
محمد بن مثنر


نضر



مسلم
اسحاق بن ابراهيم



النسائى





D.    Analisa
Ayat 10 ini adalah merupakan peringatan yang berupa pangkal dan pokok hidup orang yang beriman yaitu bersaudara. Hal ini sangat sesuai dengan surat Al-fath: 29 yaitu bahwa orang-orang yang telah terikat dalam iman kepada Allah SWT dengan sendirinya mereka bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang di antara sesama mereka. Kalau ayat 10 ini menjelaskan yang lebih positif lagi bahwa kalau orang sudah sama-sama tumbuh iman di hatinya, tidak mungkin mereka akan bermusuhan. Akan tetapi, dalam masyarakat sekarang sesama orang mukmin tidak lagi berkasih saying, bahkan sebaliknya saling mengolok-olok, mengejek satu sama lain dan sebagainya. Itu semua dikarenakan keegoisan mereka sendiri, mereka sama-sama ingin menang sendiri.
Hal itu sangat bertentangan dengan sabda Rosulullah SAW yang berbunyi:
المؤمن للمؤمن كالبنيان يسد بعضه بعضا (رواه البخارى و مسلم)
Artinya:
“Orang mukin yang satu dengan orang mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang antara bagian-bagiannya satu sama lain saling kuat menguatkan” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas jelas sekali bahwa sesama muslim itu saling kuat menguatkan satu sama lain, bahkan mereka sudah seperti satu batang tubuh yang masing-masing bagian tubuh ikut merasakan penderitaan bagian tubuh lainnya.



KESIMPULAN


Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.    Orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara
2.    Oleh karena bersaudara, maka jika antara dua orang beriman bertikai, wajib mendamaikan keduanya
3.    Dan seorang muslim belum sempurna imannya sebelum ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri dan membenci mereka sebagaimana ia membenci dirinya sendiri



DAFTAR PUSTAKA


M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati, 2002.

Abdul Aziz Al-Fauzan, Fiqih Sosial: Tuntunan dan Etika Hidup Bermasyarakat, Jakarta; Qisthi Press, 2007.

Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, Yogyakarta: LPPI UMY, 2000.

Salim Bahreisy dan Said bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 7, Surabaya: PT. Bina Ilmu. 2004.

Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jilid 9, Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, 2003.

Teungku M. Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur'anul Majid An-Nuur, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2000.

Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an, Jilid 10, Jakarta: Gema Insani, 2004.

Abdul Aziz Al-Khawali, Adabun Nabi, Beirut: Dar Al-Fikr, 2000.