Subscribe:

Jumat, 16 September 2011

TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH


BAB I
PENDAHULUAN


Manusia adalah makhluk ciptaan Allah, ia tidak muncul dengan sendirinya seperti yang telah tertulis dalam al-Quran surat al-Alaq ayat 2yang menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah dari segumpal darah;Al-Quran surat ai-Thariq ayat 5 menjelaskan bahwa manusia dijadikan oleh Allah;Ai-Quran surat al-Rahman ayat 3 menjelaskan bahwa Al-Rahman (Allah) itulah yang menciptakan manusia.Masih banyak lagi ayat-ayat Al-Quran yng menjelaskan bahwa yang menjadikan manusia adalah Tuhan.
Manusia diturunkan kebumi ini bukanlah hanya sebagai penghias atau pelengkap dibumi semata,tapi manusia sesungguhnya mempunyai kedudukan,peran dan tugas yang telah melekat padanya yang terbawa sejak ia lahir kedunia yang luar biasa ini.Salah satu perannya adalah manusia sebagai khalifah dibumi.Manusia telah dipilih oleh Allah untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang khalifah dibumi,karena manusia merupakan makhluk yang paling istimewa dibanding dengan makhluk-makhluk yang lainnya.Mereka dipilih untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada dengan cara-cara mereka sendiri dan tanpa melepas tanggung jawab.

Dalam hal ini saya mencoba menuangkan dalam bentuk makalah yang berjudul “TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DIBUMI” dengan harapan semoga makalah ini dapat menambah keimanan dan keilmuan kita baik didunia maupun diakhirat kelak. Amin.

BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian Khalifah
Khalifah dan khulafa (jamak) secara bahasa artinya wakil atau pengganti atau orang yang menggantikan orang yang sebelumnya.Al-Quran menyebut kata khalifah dalam surat al-Baqarah :30 dan shad :26, khulafa' (3 kali : al-A'raf : 69,74 ; an-Naml :62), khalaifa (4 kali : al-An-am :145 ; Yunus :14,73 ; fathir : 39) dan masih banyak ayat yang lain yang menyatakan kata bentuknya. Semua dinyatakan dalam arti bahasa, yakni pengganti yang menggantikan umat atau pemimpin terdahulu; menggantikan malaikat untuk mengurus bumi atau mendapat amanah dari Allah untuk mengelola bumi.
Menurut istilah yang lebih khusus lagi pada kekuasaan, berarti orang yang dipilih oleh jama'ah menjadi pemimpin mereka. Khalifah menurut sejarah ialah kepala pemerintahan islam pada zaman sahabat, yaitu dengan bai'at sebagai pernyataan setia dari penduduknya dengan jalan pilihan. Sesudah masa sahabat, sebutan khalifah di pergunakan untuk sebutan kepala pemerintahan tetapi tidak melalui pilihan (kerajaan). Dulu pada saat Abu Bakar As-Shiddiq menjadi pemimpin umat islam, beliau disebut khalifah (pengganti) dari Rasulillah.Lalu ketika Umar ra menggantikan, beliau disebut khalifat-khalifat Rasulillah (pengganti dari pengganti Rasulillah).
Karena gelar ini terlalu panjang, akhirnya Umar ra berinisiatif mengganti gelar itu menjadi Amirul Mukminin (Pemimpin orang-orang mukmin). Semua manusian yang diciptakan Allah di muka bumi adalah khalifah Allah atau pengganti makhluk Tuhan untuk melaksanakan amanah Tuhan sebagai pengelola bumi ini.Allah memberikan amanah kepada semua manusia (khulafa) untuk membangun bumi ini ; bukan kepada Malaikat, Jin, Hewan, Gunung, Langit dan lain sebagainya walaupun mereka juga ciptaan Allah. "(QS.33:72). Manusialah yang sanggup memegang amanah itu karena potensi yang dimiliki oleh manusia.
  1. Manusia Sebagai Khalifah Allah
Antara anugrah Allah kepada manusia ialah pemilihan manusia menjadi khalifah atau wakilnya dibumi. Dengan dipilihnya manusia menjadi khalifah, ia mempunyai kewajiban yang harus ditegakan diantaranya kewajiban menegakan kebenaran, kebaikan, mewujudkan perdamaian, menghapus kemungkaran serta penyelewengan dan penyimpangan dari jalan Allah. Kewajiban-kewajiban tersebut akan dimintai tanggung jawabnya kelak oleh Allah. Apabila pengakuan terhadap kenyataan dan hakikat wujudnya hari pembalasan telah dibuat maka tugas yang diwajibkan keatas dirinya perlu dilaksanakan.
Dikalangan makhluk ciptaan Allah,manusia telah dipilih oleh Allah melaksanakan tanggungjawab tersebut.Ini sudah tentu karena manusia merupakan makhluk yang paling istimewa. Firman Allah yang artinya :
"Sesungguhnya kami telah kemukakan tanggung jawab mamanah (kami) kepada langit dan bumi serta gunung-gunung (untuk memikulnya), maka mereka enggan memikulnya dan bimbang tidak dapat menyempurnakan (karena tidak ada pada mereka persediaan untuk memikulnya); dan (pada ketika itu) manusia (dengan persediaan yang ada padanya) sanggup memikulnya.(Ingatlah) sesungguhnya tabiat kebanyakan manusia adalah suka melakukan kezaliman dan suka pula membuat perkara-perkara yang tidak patut dikerjakan." (Al-Ahzab:72)
  1. Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah Di Era Moderen
Allah SWT dengan kehendak kebijaksanaan-Nya telah menciptakan makhluk-makhluk yang ditempatkan di alam penciptaan-Nya. Sebagai khalifah tanggung jawab manusia adalah sangat luas didalam kehidupannya, meliputi semua keadaan dan tugas yang ditentukan kepadanya.
Di zaman serba modern ini tanggung jawab manusia khususnya sebagai khalifah hampir semua orang meninggalkannya. Manusia melupakan tugas dan tanggung jawab dari aslinya dengan membengkokon kearah-arah yang negatif.
Manusia dalam melakukan kerja kebudayaan memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan diantara berbagai macam kemungkinan. Tetapi kebebasan itu tidak bebes begitu saja,dalam artian bebas dalam batas tertentu terhadap hak orang lain. Kondisi ini digambarkan pada masa lalu,terdapat rebutan lahan diantara dua penguasa. Mereka mempermasalahkan batas wilayah yang tidak henti-hentinya. Thomas Hobbes menyebutnya sebagai homo homini lopus, artinya manusia adalah serigala bagi manusai yang lain. Persoalan rebutan wilayah itu mungkin kalau sekarang seperti persoalan antara Israel dan Palestina yang selalu bermusuhan karena berebutan wilayah.
Hal tersebut dapat terjadi karena tanggung jawa manusia sebagai khalifah/pemimpin telah musnah. Mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi, tidak peduli lagi akan tanggung jawab sebagai seorang khalifah, tidak peduli akan kebenaran kebaikan, mewujudkan kedamaian, menghapus kemungkaran serta penyelewengan dan penyimpangan dari jalan Allah.
Pemanfaatan tekhnologi sekarangpun telah banyak membelok dari fungsi aslinya, yakni dari fungsi aslinya tekhnologi itu dipergunakan untuk memecahkan masalah yang lahir dalam kehidupan,sebagai sarana atau aktifitas yang denganya manusia berusaha mengubah atau menangani lingkungan,sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan praktis yang bersifat positif. Sebagai sarana untuk mempermudah manusia melakukan tugasnya,misalnya:
  1. Dengan tekhnologi modern, dari tekhnik mengendalikan aliran air sungai petani mendapatkan kemudahan dalam memperoleh air. Bendungan dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik. Alat rumah tangga elektronik mempermudah ibu-ibu rumah tangga dalam melaksanakan tugasnya.
  2. Dengan tekhnik modern dapat dibuat bermacam-macam media pendidikan, seperti, slide, film setrip, TV dan lain-lain yang dapat mempermudah para pendidik dalam melaksanakan tugasnya.
Pengetahuan dan tekhnologi memungkinkan terjadinya perkembangan ketrampilan dan kecerdasan manusia. Hal ini karena dangan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi memungkinkan:
  1. Tersedianya sarana dan prasarana penunjang kegiatan ilmiah.
  2. Meningkatnya kemakmuran materi dan kesehatan masyarakat.
Fungsi hakekat tekhnologi tersebut telah banyak yang pensiun, meski banyak pula yang berjalan sesuai mestinya. Tekhnologi yang pensiun atau berubah dari hakekat fungsinya, misalnya adalah pembuatan nuklir, meledaknya bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 8 Agustus 1945 mengakhiri perang dunia ll. Akibat bom atom korban manusia sipil yang cacat seumur hidup dan hangus menjadi abu dalam sekejap lingkungan alam hancur. Sampai saat ini jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki selalu diperingati sebagai peringatan akan bahaya tekhnologi atom bagi umat manusia. Itulah akibat dari melalaikan tanggung jawab manusia.

  1. Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah Bila Dihubungkan Dengan Transisi Demokrasi Di Indonesia.
Munculnya berbagai kerusuhan sosial selama masa transisi akibat tindakan yang tidak bertanggung jawab mengecilkan harapan akan berlangsungnya proses demokratisasi dapat berjalan dengan lancar. Proses peralihan kekuasaan dari Soeharto ke Habibie mengakibatkan terjadinya konsolidasi politik yang sangat kuat diantara berbagai kelompok kepentingan yang ada dalam masyarakat. Hal ini menimbulkan rejuvenasi politik aliran yang sangat menonjol. Banyak pendirian partai yang didasarkan pada aliran dan kepercayaan agama tertentu, sehingga hal ini berimplikasi pada lahirnya kekuatan politik yang tidak mampu membentuk eksekutif yang dapat merumuskan dan mengimplementasikan sejumlah kebijakan publik.
Sesuatu yang tidak mustahil kalau kemudian masyarakat Indonesia melewati masa transisi ini menghadapi kesulitan menciptakan sebuah demokrasi yang stabil disebabkan begitu meluasnya konsolidasi kekuasaan yang ada , termasuk dari kekuatan lama Orde Baru. Salah satu variabel yang sangat menentukan dalam uraian ini adalah adanya pemilihan sosial yang cenderung bersifat kumulatif atau konsolidatif (commulative or consolidated social cleavages). Hal ini terlihat pada adanya kecenderungan yang sangat tinggi untuk melakukan mobilisasi massa dengan menggunakan politik aliran. Agama merupakan sumber mobilisasi sosisl dan politik yang sangat strategis dan efektif.
Dalam konteks masyarakat indonesia, isu agama menyentuh sentimen paling mendasar, sehingga agama mudah dipergunakan sebagai modal partai politik untuk memperoleh simpati masa pendukung. Hal tersebut sangat bertentangan dengan prinsip seorang khalifah yang selalu mengemban tanggung jawab dengan ikhlas, tidak memperjual belikan agama dan memanfaatkannya untuk kepentingan partai politik.
Walaupun al-Quranul karim telah memberitau tugas dan tanggung jawab manusia dibumi ini dan diberitahukan mereka yang menunaikan tanggung jawab akan masuk surga, manakala yang tidak bertanggung jawab masuk neraka, namun tidak semua manusia percaya semua ini serta beriman dengannya. Bahkan yang percaya dan beriman dengannyapun karena tidak mampu melawan nafsu serta mempunyai kepentingan, kepentingan pribadi, ramai yang tidak dapat benar-benar memperhambakan diri kepada Allah dan gagal menjadi khalifah-Nya yang mentadbir dan mengurus dunia ini dengan syarat-Nya. Karena itulah Allah ta'ala berfirman dalam surat saba:13 yang artinya;
Sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur”
Keoptimalan manusia sebagai khalifah akan tercapai dibumi dengan sempurna apabila manusia dapat memanfaatkan segala pikiran hebatnya yang dianugrahkan oleh Allah SWT, dengan menciptakan teknologi yang canggih yang berdasar nilai-nilai keillahian (sifat-sifat Allah Asmaul Husna) dan keislaman dengan kemampuan seni, mengatur keseimbangan potensi alam dan lainnya dengan dipimpin oleh seorang khalifah yang robbani yang memerintah berdasar syariat islam. Apabila hal-hal tersebut tidak tercapai seluruhnya maka tidak tercapai keoptimalisasian peran kekhalifahan manusia. Walaupun terjadi maka hal tersebut belum dan tidak maksimal. Jadi pada dasarnya setiap umat manusia mengemban tugas yang maha penting untuk memerintahkan kekhalifan di bumi

BAB III
PENUTUP

Sebagai mahluk yang dibekali dengan berbagai kelebihan jika dibandingkan dengan mahluk lain, sudah sepatutnya manusia mensyukuri anugerah tersebut dengan berbagai cara, diantaranya dengan memaksimalkan semua potensi yang ada dalam diri kita. Kita juga dituntut untuk terus mengembangkan potensi tersebut dalam rangka mewujudkan tugas dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tehnologi tentulah dipergunakan sebaik mungkin, dengan catatan tidak melebihi ambang batas, sebab sesuatu yang sifatnya berlebihan itu tidak baik. Begitu juga dengan pemanfaatan IPTEK, pemanfaatan IPTEK yang melebihi angka wajar ia akan menjadi penghancur yang sangat kuat, baik itu pada moral-moral anak bangsa, pada lingkungan hidup dan sebagainya.



DAFTAR PUSTAKA
Haryono P, 2009. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Semarang : Mutiara Wacana
Yaqin, Haqqul, 2009, Agama dan Kekerasan dalam Transisi Demokrasi di Indonesi, Yogyakarta : ELSAQ Press
Isu Agama Menyentuh Elemen Paling Mendasar” , KOMPAS, 1 Juli 2002
Gaffar, Atan, Politik Indonesia